Minggu Tragis!

21 Feb 2011

Apakah kalian pernah menyangka, kalau seseorang yang kita sapa beberapa menit lalu bisa meninggalkan kita dan dunia ini dalam waktu beberapa menit ?,. Itu yang gw dan teman - teman gw alami minggu kemaren tepatnya 20 Feb 2011. Kejadiannya cukup tragis. mungkin gw bisa langsung cerita sama kalian.

Minggu itu latihan Marching Band berlangsung seperti biasa. Semua seperti biasa bersemangat, sebenarnya gw sendiri baru kali pertama ikut latihan disana. Gw ikut Hegar dan Ka Dwi melatih di SDN 03 Pejaten Timur, Jaksel. Deretan Hornline tampak harmonis memainkan pianikannya, dan deretan perkusi pun tampak serupa. Seusai latihan gw membantu Hegar merapihkan alat - alat perkusi dan Bells di ruangan yang cukup sempit. Setelah selesai merapihkan seperangkat alat perkusi itu gw dan Hegar mengunci ruangan sempit itu, lalu setelah selesai menguncinya, Ka Dwi datang dan mengecek ulang semuanya, dan setelah semuanya dipastikan beres dan semua anak - anak telah pulang kerumah tiba - tiba 2 orang siswi SD yang mungkin masih menginjak kelas 5 atau 6 itu datang dengan muka panik dan air mata yang tertahankan, lalu mengabarkan kepada kami kalau temannya jatuh terserempet kereta.

Ya. memang SDN 03 Pejaten Timur terletak bersebelahan dengan Rel Kerete yang membentang antara Bogor dan Beos - KOTA. Siswa - siswi SD tak ayal melewatinya hanya untuk pulang dan datang ke Sekolah. Kedua Siswi itu panik dan mulai menangis, Gw dan Hegar yang masih tak percaya akhirnya menghampiri rel kereta yang di sebut - sebut sebagai tempat kejadian. Kita melewati pintu belakang sekolah itu, dan hal pertama yang gw tangkap dari kejadian itu adalah kejadian itu memang benar - benar terjadi. Keramaian telah menyelimuti tempat itu dan Gw makin penasaran dengan hal itu, gw sempat menengok ke arah rel dan gw sempet gak percaya.

Siswi itu telah terlentang di tengah - tengah pembatas Rel ganda itu, di sanalah semua perhatian orang - orang tertuju. Gw terdiam dan terpaku melihatnya, aliran darah segar mengaliri kepalanya yang kecil. Gw mengalihkan pandangan gw ke sebuah Pianika di tengah Rel yang sydah terpisah dengan Casenya. gw kembali lagi kedalam sekolah. Sekolah kembali di isi oleh isak tangis siswa - siswi yang merupakan temannya.

Gw, Hegar dan Ka Dwi duduk termenung, dan seluruh badan kami lemas. Memang secara teknis kami sudah tidak bertanggung jawab atas kejadian itu, namun apa boleh buat semuannya terjadi begitu cepat, dan kita sadar pada akhirnya semua akan menekan kami yang melatih Marching Band. Dalam diam kami, kami duduk di sebuah selasar di SD itu, dan kemudian datang seorang pelatih lagi yang kami panggil Pak Ade mengabarkan bahwa Siswi itu telah meninggal dunia dan Ayahnya sudah datang bersama wali kelasnya di SD itu mengurus jenazah itu. Kami makin tegang dan terdiam lemas mendengar kabar, buyar semua pikiran kami tentang segalanya. Lalu tidak beberapa lama teriakan keras terdengar, sebuah jeritan seorang Ibu yang melihat anaknya telah tak bernyawa lagi. Badan kami lemas dan makin tak berjiwa. Ka Dwi dan Pak Ade mengajak kami pergi dari tempat itu, namun kami tidak bisa melewati jalan kami ketika kami datang. Kami melewati jalan yang berbeda, selama perjalanan kami terus di hantui rasa tak enak, selama perjalanan kami selalu di pertemukan dengan bendera kuning lebih dari 3 kali kami melewati tempat yang dihinggapi bendera kuning itu. Kami hanya berputar - putar di komplek itu dan pada akhirnya kami menemukan jalan raya, kami pulang kearah Kebagusan. Beberapa ratus meter sebelum Pasar Minggu jalanan kian macet dan mobil polisi tengah stand by di tempat itu, ketika kami menoleh ke sumber keramaian itu, Gw melihat siswi itu sedang di urus jenazahnya, lalu kami pergi meninggalkan itu, meninggalkan kejadian itu, meninggalkan semuannya dibelakang, namun satu hal yang tak akan terlupakan sebuah kenangan yang tragis di minggu itu akan selalu kami ingat,,, Keep On Writting !



TAGS kisah tragis minngu tragis kisah nyata kecelakaan kereta api kecelakaan kereta insiden kereta


-

Author

Follow Me