Sebuah Puisi di dinding

11 Jan 2011

Oleh Amri Hidayatulloh

Entah ada apa dengan secarik kertas yang ku tempel di dinding kamarku sehingga aku harus berdiri di depannya setiap hari. Aku mambaca puisi itu berulang kali setiap harinya, sampai hafal aku dibuatnya. Namun ada sesuatu yang berbeda setiap aku selesai membacanya. Entah kenapa puisi itu selalu membisikanku sesuatu yang menenangkan relung jiwaku yang selalu terguyur nelangsa cinta. Puisi itu tidaklah spesial dan kata - kata didalamnya tidaklah memiliki makna yang mendalam, namun bagiku itu sangat berarti untuk mengertikan apa yang ku rasa saat ini.

Aku lagi - lagi melirik puisi itu dan kemudian membacanya, lucu memang kenapa aku harus terpaku kepadanya, kepada secarik puisi itu, entah kenapa aku memang harus membacanya. Tidaklah ada yang menarik didalam puisi itu, tapi puisi yang hanya berjudul “Menunggu cinta” itu mampu menarik perhatianku. Itu memang salah satu puisi yang kuciptakan dulu, ketika ku bersamanya. Bersama seorang gadis yang kini sudah membuangku dari salah satu ruang hidupnya. Aku memang pernah dekat dengannya, namun memang tak pernah ada yang spesial dengannya, namun puisi itu kubuat hanya untuk menjelaskan kepadanya bahwa aku selalu menunggu cintanya yang memang sudah termiliki orang lain, sepenih hati aku ciptakan lantunan bait - bait itu, hanya baerharap bahwa puisi itu sudah mampu menjelaskan kepadanya bahwa aku sedang menunggunya.

Semenjak satu kejadian yang tak pernah aku inginkan terjadi, puisi itu satu - satunya yang mengingatkanku dan mendewasakanku bahwa cinta hanyalah sebuah kata yang tak haruslah di ungkapkan dengan kata - kata juga. Kejadian malam itu, telah membalikan semuannya, seakan hidup berjalan berlawanan dengan harapanku. Dia, cinta yang telah ku tunggu, gadis itu, telah jatuh ketangan yang lain, tanpa memberikanku kesempatan untuk meraihnya. Aku memang pernah terpukul dan kecewa, namun seiring sejalannya waktu, pemikiran dewasaku membuatku terus melangkah. Kejadian itu meninggalkan bekas yang mendalam yang tak pernah ku yakini bahwa aku mau menerimannya, namun semuannya sudah tak terelakan terjadi, semuanya tak terbantahkan, tersisalah puisi - puisi yang menjadi saksi bisu perjalannanya, namun tidak semua puisi yang kuanggap berarti bagi diriku sekarang. Puisi itu, yang ku tempel dalam dinding rumahku, itulah yang berarti, itulah yang mampu mengerti.

Aku masih berdiri didepannya, di depan puisi yang bisu namun tersimpan sejuta makna kehidupanku, aku mulai membacanya lagi, dan entah kenapa setiap bait yang kubaca selalu mengingatkanku kepada semua detil mozaik kisahku terdahulu dan apa yang aku sedang jalani sekarang. Aku kembali membacanya, dan aku mulai dari bait pertamannya.

Butiran air jatuh lembut dari langit
Menghiasi sore kelabu itu
Dingin mencengkam menemani kesepian
Seakan memahami relung hati yang sepi
Kesepian sang insang muda yang mencoba memahami

Diriku dan pikirku kembali terasa terlempar jauh kedalam batas waktu yang tak pernah ku ingat kapan. Aku kembali kedalam waktu itu, ke sore yang kelabu itu, aku masih ingat, ketika ku duduk sendiri di kursi bambu di depan rumahnya. Hujan turun dengan derasnya. Aku ingat semuannya, aku ingat ketika dia menjawab telepon dari sang pemilik cinta. AKu memperhatikannya dengan senyuman penantian dari diriku. Dia terus tersenyum melihatku bertingkah konyol sore itu dengan suara manja yang ia sampaikan dalam teleponnya, Sadis memang, dia harus bermanja dengan sang pemilik cinta namun dia masih berada di hadapanku, dan dia harus mengankui keberadaanku yang sedang merasa kesepian menunggunya. Lalu pikirku kembali kepada ragaku sendiri yang masih terpaku dengan bait - bait puisi itu, aku melanjutkan membaca puisi itu ke bait berikutnya.

Dia terus menunggu ketidakpastian waktu
Mencoba memahami arti senyumannya
Dia terus terpaku melihatnya
Seolah tak tahu apa yang ia sedang lakukan

Dia terus menunggu
Menunggu cinta yang tak pasti
Dia terus menunggu
Menunggu cinta yang tak lekas dilepas pemiliknya
Dia terus menunggu
Menunggu sesuatu yang tak absolut

Akulah dia, akulah sang penunggu, aku terhanyut kembali kedalam keadaan saat itu, ke kelabu sore itu. Aku tetap setia menunggunya, hanya untuk menghabiskan sore itu bersamannya, namun petang makin menjelang, aku tak yakin gadis itu mau menyisakan waktu bersamaku, hujan makin deras dan aku tetap menunggu, aku menunggu sesuatu yang aku tak ketahui dan aku tak pernah yakini akan segera datang dan menerimaku. Dan semenjak kejadian itu, aku tak mampu mengakui kembali bahwa aku masih dan mau untuk menunggu cintanya lagi. Semenjak dia tak mau mengakui aku lagi sebagai salah satu orang yang berarti lagi baginya, aku tak berani dan berpura - pura tak mau tahu bahwa aku masih menunggunnya, namun hingga detik ini akupun sejujurnya masih menunggunnya, menunggu cintannya. Aku kembali tersadarkan bahwa aku masih berdiri di depan dindingku, masih membaca puisi itu, dan aku kembali meneruskannya.

Ketika cinta lain berjalan indah
Cintanya harus terus menunggu
Menunggu ketidakpastian
Haruskah ia berhenti menunggu
Ia tak berani dan tak mau menjawabnya

Bukankah tidak satupun yang tahu dalamnya cinta
Dalamnya cinta hanya diketahui dari selang waktu yang dihabiskan
Dalamnya cinta hanya diketahui dari tulisnya cinta yang diberikan
Namun dalamnya cinta tak harus menunggu sebuah kepastian

Cintanya terus menunggu
Baginya mennunggu cinta bagaikan menungggu petang
Merasakan sejuk pagi diawalnya
Merasakan panasnya siang ditengah perjalannya
Dan akhirnya merasakan kehangatan cinta di petangnya
Namun petang tak kunjung datang baginya

Aku tersindir dengan kata - kata dalam beberapa bait itu. Aku adalah sang penunggu, namun aku menggadaikan perasaan ku untuk menunggu cinta yang tak pernah mau untuk memilih aku. Dan jatuh kepada cinta yang tak pernah untuk memihak kepadaku. Aku sendiri yang mengibaratkan penantianku kepada menunggu petang. namun aku sudah merasakan indahnya kesejukan pagi, bahkan panasnya hati pada petengahan cinta, yang mampu membakar hatiku dalam perasaan cinta, namun aku salah, aku tak pernah mendapati petang yang aku dambakan itu, tak pernah sekalipun, aku hanya terbakar didalamnya, dan tak pernah keluar dari cinta yang dalam. Namun aku tertunduk dan termenung, hatiku yang terbakar seakaan terasa tenang. ketika aku membaca bait terakhir dalam puisi itu.

Hangatnya petang tak harus diakhiri dengan memiliki
Tapi hangatnya petang dapat kita rasakan ketika kita mampu
Tulus mencintai dan tulus menunggu sebuah kepastian cinta
Sebuah cinta yang sebenarnya.

Aku termenung. Aku terdiam, dalam tunduku, hilang semua, rasa yang membakar hatiku di hari - hariku ketika aku harus melihatnya, gadis itu, cinta yang aku tunggu, berada dalam genggaman cinta lain,. hilang semua rasa ego ku yang selalu menanti. Aku sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini bukanlah sekedar penantian belaka, penantian ini tak haruslah terbalaskan, aku sadar, aku tak memiliki apa yang dia inginkan, biarlah diri ini menanti, agar diri ini sadar bahwa penantian tak harus terbalaskan oleh memiliki cinta, biar dirinya, gadis itu sadar, walaupun aku tak mampu menyanjungnya lagi, walaupun aku tak bisa berkata manis lagi, penantianku akan tetap berjalan, sejalan dengan semua cinta yang ku miliki, karena aku, diri ini, sesungguhnya memiliki cinta itu, cinta yang tulus hanya untuknya..



TAGS blogging langkah membuat film masalah remaja puisi puisi pendek poetry puisi amri romansa cinta anak pelajar cinta monyet realita cinta anak smk cerita cinta puisi cinta kisah cinta anak smk penantian cinta


-

Author

Follow Me